ADSENSE

Isnin, 9 November 2015

Bila Musim Hujan Tiba.....

Hujan yang turun bagaikan mutiara.....
Sementara menunggu nasi tanak, mari kita tinjau-tinjau di persekitaran tempat kediaman kita setelah hujan turun.

Alhamdulillah....
Sedikit masa dulu kita diuji dengan jerebu, dan akhirnya langit kembali cerah, mentari bersinar terang dan bumi kembali subur dengan siraman air hujan yang dingin dan menyegarkan suasana.

Kita sedia maklum bagaimana hujan boleh terjadi. Itulah kebesaran Ilahi, diberinya kita akal untuk memikirkan keagungan-Nya, diberinya kita jalan untuk mengkaji segala kejadian dan ciptaan-Nya.


Di dalam ayat ke sebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam ukuran tertentu, sebagaimana ayat di bawah ini:
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11)

Kadar yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi (peredaran) dalam sebuah siklus ( putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur) seimbang menurut ukuran tertentu.

Sumber:
 
Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahap-tahap pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, bahan mentah hujan naik ke udara dan kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, titisan-titisan hujan pun muncul.
Tahap-tahap ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad lamanya sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:

“Allah, Dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat  hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang di kehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum, (40):48)

 
Tahap Pertama: “ Allah, Dialah yang mengirimkan angin…..”
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini yang kaya dengan garam kemudian dibawa oleh angin dan bergeser ke atas menuju atmosfera. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan wap air (yang naik dari lautan sebagai titisan-titisan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “Jebakan Air”) di sekelilingnya


Tahap  Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendaki-Nya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”
Awan terbentuk dari wap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena titisan-titisan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0.01-0.02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat  hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk titisan-titisan hujan. Sehingga, titisan-titisan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahap-tahap tersebut dijelaskan dalam rentetan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, Al-Qur’anlah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah menyampaikan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad lamanya sebelum sains sanggup mengungkapnya.
 
Memetik tulisan dalam blog Hidayatullah.com:
Umat Islam memiliki cara dan adab termasuk dalam urusan menyikapi kedatangan musim hujan. Islam mengajar penganutnya bahawa: 

Tidak ada setetes air hujan yang membasahi bumi ini kecuali atas kehendak Allah. Ia merupakan rahmat Allah kepada bumi dan seisinya. Melalui hujan, Allah menumbuhkan berbagai tanaman untuk memberi rezeki kepada umat manusia. Dalam al-Qur`an Allah berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ 

رِزْقاً لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً كَذَلِكَ الْخُرُوجُ

Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (Qaaf [50]: 9-11)


Imam An Nawawi dalam al-Adzkar (1/182) berkata:
Pertama : Dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah atas curahan nikmat ini, iaitu nikmat diturunkannya hujan.

Kedua: berdoa kepada Allah agar hujan tersebut membawa manfaat. 
Rasulullah ketika melihat hujan langsung berdoa: اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا (Ya Allah, jadikan hujan ini sebagai hujan yang membawa manfaat dan kebaikan.” (Riwayat Bukhari)

Ketiga, menyiram sebagian badan dengan air hujan.
Ketika hujan datang Rasulullah membasahi badannya dengan air hujan.
Dari Anas RA, dia berkata, “Hujan mengguyur kami beserta Rasulullah. Kemudian Rasulullah menyingkap sebagian bajunya sehingga hujan membasahi sebagian tubuhnya. Kami bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?’
Beliau menjawab, ‘Aku melakukannya karena hujan tersebut adalah rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah’.” (Riwayat Muslim)


Keempat: Banyakkan berdoa.
Hujan merupakan salah satu tanda dikabulkannya doa seorang hamba. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang solat dilaksanakan, dan [3] saat hujan turun.” (Riwayat Imam Syafi’i dan Al Baihaqi)

Kelima: Berdoa agar cuaca dicerahkan kembali.
Apabila hujan turun dengan derasnya dan dikhawatirkan membawa mudharat, kita dianjurkan untuk berdoa kepada Allah agar cuaca dicerahkan kembali, sebagaimana Hadits riwayat Anas, dimana Rasulullah berdoa dengan lafadz:

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺣَﻮَﺍﻟِﻴْﻨَﺎ ﻭَﻻَ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ،ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّﻋَﻠَﻰ ﺍْﻵﻛَﺎﻡِ،ﻭَﺍﻟﺠِْﺒَﺎﻝِ،ﻭَﺍْﻟﻈَﺮَﺍﺏِ،ﻭَﺑُﻄُﻮْﻥِ ﺍْﻷَﻭْﺩِﻳَﺔِ،ﻭَﻣَﻨَﺎﺑِﺖِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di daerah sekitar kami, bukan di daerah kami. Turunkanlah hujan di perbukitan, pergunungan, di lembah-lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)



Keenam: Berdoa ketika mendengar petir yang mengkhawatirkan:
Dari Abdullah ibnu ‘Umar RA, bahwa Rasulullah apabila mendengar suara petir, maka beliau berujar:

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗَﻘْﺘُﻠْﻨَﺎ ﺑِﻐَﻀَﺒِﻚَ،ﻭَﻻَ ﺗُﻬْﻠِﻜُﻨَﺎﺑَﻌَﺬَﺍﺑِﻚَ،ﻭَﻋَﺎﻓِﻨَﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ

“Ya Allah, janganlah Engkau hancurkan kami dengan kemarahan-Mu dan janganlah Engkau binasakan kami dengan azab-Mu, selamatkanlah diri kami sebelum hal tersebut terjadi.” (Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, Tirmidzi dan Hakim). Demikianlah beberapa adab Muslim membedakan dengan umat lain dalam menyikapi hujan.

 Syukur atas segala rahmat-Nya....
 
Sumber:
1. KEAJAIBAN HUJAN : HARUN YAHYA
2. BEGINI SIKAP MUSLIM SAAT MUSIM HUJAN TIBA : HIDAYATULLAH.COM

2 ulasan:

♥♥azatiesayang ♥♥ berkata...

Cantik gambar2 yg Amie snap tu....

Fiza Lgk berkata...

Photo shoot K.Amie sangat cantik & bagai terasa-rasa kedinginan musim hujan dlm entry ni sampai ke kesini.